Pesan Perpisahan dari sahabat
“Deandra…” teriak Naina dari tangga ruangan olahraga. Deandra yang sedang asik memainkan bola basketnya menghentikan permainannya itu, lalu berlari mendekat kearah Naina.
“Ada apa Nai?” tanya Deandra
“Ingat gak kamu?” Naina balik bertanya
“Enggak” jawab Deandra singkat. Itu pertanda Deandra – salah satu dari sahabat Naina yang juga seorang kapten basket lupa bahwa ia ada janji dengan Naina dan Fidya untuk nonton pemutaran perdana Film Harry Potter di Bioskop. Naina sangat kecewa.
“Bukannya kita mau nonton?” kata Fidya seolah menyindir
“Oh iya, aku lupa.. tenang.. aku bawa baju ganti kok” jawab Deandra santai
“Yaudah, kita tunggu didepan ya?” kata Naina sambil melambaikan tangannya dan langsung berjalan keluar ruangan olahraga. Kurang dari 10 menit Deandra telah berganti pakaian dan sepertinya siap untuk pergi dengan Naina dan Fidya.
“Naik taksi saja?” tanya Naina
“Jangan Nai, gengsi.. masa mau nonton naik taksi? kan aku juga bawa mobil” Jawab Deandra seolah menghapus kesalahannya yang telah melupakan janjinya
“Good deh..” Fidya menambahkan sambil mengacungkan dua jempol untuk Deandra
Diperjalanan Fidya, Naina dan Deandra menyanyikan lagu favorit mereka bertiga – Lucky lagu dari Jason Miraz. Persahabatan mereka seolah tidak bisa dipisahkan lagi, mereka sudah bersahabat sejak kelas 1 sekolah dasar. Walaupun hobi dan minat mereka semua berbeda, mereka tidak pernah mempermasalahkannya. 30 menit perjalanan tidak terasa, mereka bertiga sudah sampai di Gedung Bioskop. Tampak antrean panjang diloket, mereka semua pasti penggemar Harry Potter.
***
Dua jam lebih film itu diputar, Fidya, Naina dan Deandra puas bisa menghabiskan akhir minggunya bersama-sama. Apalagi sekarang mereka sudah kelas 9 SMP, mereka sudah sibuk dengan berbagai persiapan untuk Ujian Nasional. Saat mereka bertiga makan-makan di sebuah food court, tiba-tiba saja Naina mimisan. Naina langsung pergi ke wc food court tersebut. Deandra dan Fidya hanya menatap Naina heran.
“Hei.. aku pulang duluan ya? Ada urusan mendadak nih” kata Naina membuat kedua temannya itu kaget. Naina segera mencari taksi dan pergi entah kemana. “Pak, tolong ke Rumah sakit Mitra Kasih”
Sesampainya disana Naina langsung diperiksa oleh seorang dokter. Dokter tersebut menyuntik Naina dan langsung membawa sampel darahnya ke laboratorium, kurang dari 30 menit, Dokter kembali lagi dan langsung berkata.
“Apakah kamu siap?” tanya dokter tersebut
“Siap apa dok?” Naina balik bertanya
“Kamu mengidap kanker darah stadium 3”
Naina tersentak kaget dan lalu termenung. Mungkin ini adalah hari-hari terakhir dalam hidupnya. Lalu Naina mengambil ponselnya dan membuat sebuah pesan untuk Fidya dan Deandra.
Kita adalah teman sejati bukan? Tidak pernah menyakiti satu sama lain dan selalu bersama. Hanya maut yang dapat memisahkan kita.. Love u all
Pesan singkat tersebut sampai di ponsel Fidya dan Deandra bersamaan. Mereka kaget, kenapa Naina mengirim pesan seperti itu?
***
Sudah dua hari ini Naina menghabiskan jam istirahatnya dengan duduk di taman belakang sekolah. Taman belakang ini tampak sepi, taman yang ditumbuhi berbagai jenis tanaman dan sebuah kolam ikan kecil, ditambah dengan enam buah kursi taman yang dicat putih. Entah mengapa, semenjak Naina divonis mengidap kanker darah, seolah-olah tidak ada lagi gairah untuk hidup. Hari-harinya hanya ia isi dengan termenung dan melamun. Naina sudah pasrah dengan takdirnya. Mungkin ia akan meninggal diusianya yang sangat muda, tanpa pernah melalui masa-masa remaja yang indah karena kini penyakit kankernya semakin parah.
“Naina, ayo ikut aku” teriak Fidya teman baiknya
“Ada apa? Kalau gak penting aku gak mau” jawab Naina
“Eh… kamu gak mau lihat hasil TO kemarin?” Fidya semakin mendekat, lalu menarik tangan Naina dan membawanya ke koridor sekolah – tepat didepan mading perpustakaan. Dengan mengunakan telunjuknya Fidya mencari namanya dan nama Naina dengan hati-hati.
“Waaah… hebat kamu Nai” Fidya menepuk pundak Naina
“Hebat? Emang kenapa” tanya Naina tidak tahu. Tiba-tiba saja kepala Naina pusing bukan main. Seolah seperti ada beban yang amat berat dikepalanya. Naina menjauh dari kerubunan siswa yang sedang melihat hasil TO kemarin. Pandangannya berkunang-kunang, lalu Naina pingsan.
“Kamu tidak lihat?” Fidya balik bertanya, “Hasil TO kamu paling besar Nai.. 37,4” lanjut Fidya.
“Nai, kok kamu gak seneng sih? Nai?” kata Fidya, “Nai… Nai…” masih tidak ada jawaban dari Naina. Fidya membalikan tubuhnya diantara kerubunan siswa. Fidya kaget, temannya Naina tergeletak tak bedaya dilantai koridor. Dengan perasaan khawatir Fidya memapah tubuh Naina dan membawanya ke ruang UKS.
“Ada apa dengan Naina?” tanya Fidya pada Dio – anggota PMR sekolah yang bertugas hari ini.
“Kayanya dia kelelahan, bawa saja dia pulang” usul Dio. Fidya hanya menuruti saja perkataan Dio. Fidya segera berlari ke ruang kelas mereka, membereskan tas Naina dan tasnya. Setelah mendapatkan surat izin dari petugas piket, Fidya dibantu Dio memapah Naina ke Taksi. Suasana di taksi hening tak bersuara. Ketika Fidya memegang dada Naina, tidak ada bunyi detak jantung lagi. Lalu Fidya memegang nadi Naina, tetap tidak berdetak, Fidya merasa sangat tidak berguna, untuk apa ia menjadi sahabat Naina jika tidak bisa menolong Naina? Batinya. Dengan sigap Fidya mencari ponselnya didalam tas selempang miliknya. Lalu menelepon ibunda Naina.
Tuut..tuut..
“Halo? Tante? Ini aku Fidya.. Naina pingsan dan sekarang saya membawanya ke Rumah Sakit Mitra Kasih” jelas Fidya gelagapan
“Ya Tuhan?” Ibunda Naina kaget bukan main, “Baiklah, tante akan segera menyusul”
Fidya juga segera mengirim pesan singkat dari ponselnya kepada Deandra.
De, cepat datang ke RS Mitra kasih, Naina kritis. Jantungnya tidak berdetak lagi. Dtng secepatnya kalau kamu sahabatku..!
Pesan singkat tersebut langsung sampai ke ponsel Deandra. Deandra yang sedang bertanding di Final Basket antar SMP, langsung menyusul ke Rumah sakit Mitra Kasih.
***
Ruang tunggu Rumah Sakit ini dipenuhi orang-orang yang mengharapkan adanya mukzijat dari Tuhan. Sama seperti Fidya dan Ibunda Naina, wajah mereka dipenuhi kegelisahan. Berharap ada kabar baik dari dokter yang mengurusi Naina. Setelah sekitar 30 menit mereka menunggu, seorang dokter keluar dari ruang ICU dengan wajah yang tidak meyakinkan. Jangan-jangan ada yang tidak beres dengan Naina, kata Fidya dalam hati.
“Apa ibu keluarga dari saudara Naina Lestari?” tanya seorang dokter
“Iya.. bagaimana keadaan anak saya dok?” tanya Ibunda Naina gelisah
“Kami telah melakukan yang terbaik, tetapi Tuhan berkehendak lain. Naina telah dipanggil Tuhan, Kanker darahnya sudah tidak bisa tertolong” kata dokter itu sambil membuka maskernya. “Maaf ibu.. ini sudah kehenda Tuhan.. Kami harap ibu dapat menerimanya” dokter itu melanjutkan
Hati Ibunda Naina tersentak keras, dirinya sungguh tidak dapat menerima takdir ini. Ibunda Naina sangat terpukul, karena harus kehilangan anak semata wayangnya yang sangat ia sayangi. Fidya juga tidak kalah kaget, dirinya harus kehilangan sahabat sejatinya. Tiba-tiba datang Deandra. Ia langsung berlari mendekat. Deandra datang diwaktu yang salah, seharusnya dari tadi ia datang. Ia hanya bisa menyaksikan sahabatnya terbujur kaku diatas pembaringan. Fidya dan Deandra jadi ingat pada pesan terakhir yang sampai di ponsel mereka. Bahwa persahabatan mereka hanya bisa dipisahkan dengan maut. Deandra hanya diam membisu. Selamat tinggal Naina, kamu adalah sahabatku.. batin Fidya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar